Kamis, 04 Oktober 2012

Berbagi Kisah Kasih : How Great Your Love

Bagaimana caranya kamu tahu seseorang sangat mencintaimu?

Yupp..saat kamu melakukan sebuah kesalahan besar dan seseorang itu dengan sakitnya tetap memaafkanmu, dan memilih untuk tetap ada.

Dear kamuuu..
Terimakasih untuk 6 jam bersama hari ini. Untuk tangis, untuk sakit yang tak tergambar, untuk peneguhan-peneguhan yang akhirnya datang, untuk mimpi yang masih dengan naif kita munculkan, untuk pelukan bagi hatiku, untuk maaf yang dengan murah kamu berikan meski aku tau matamu masih memantulkan rasa sakitmu, dan terimakasih untuk tetap ada.

Rasa bersalah dan bersyukurku campur aduk, kuat menyatu.

Yaa..dengan ini aku tahu..betapa besar cintaku padamu. Hanya padamu. Tak terganti oleh siapapun. Bukan apa yang dilakukan, tapi siapa yang melakukan. Dan yang kubutuhkan dan kuinginkan hanya kamu.

Dan dengan ini aku tahu..how great your love..Cinta yang membuatmu tetap menyapaku. Tetap menemuiku. Tetap memaafkanku. Tetap di sini. Dan memilih merasakan sakit itu. Katamu : "jika harga yang harus aku bayar supaya kamu gak melakukan kebodohan itu adalah dengan terus menerus mengingatnya dan membahasnya meski dengan begitu aku sakit, akan aku bayar harga itu"

Dear God..
Terimakasih untuk cinta yang Kau berikan kepada kami ini. Meski seringkali aku menanyakan kepadaMu apa maksudMu. Tapi kali ini aku sungguh tersadarkan oleh betapa besar cinta di antara kami dan aku mensyukurinya. Karena kali ini aku telah tepat mencinta. :)

Berbagi Rasa : Tetap Ada

Sebuah email. Dengan subject "Aku tau" sukses memecahkan tangis saya. Setelah daritadi email-email sebelumnya membuat dada saya sesak dan airmata mengalir. Dan kali ini sungguhan menangis. Layaknya anak kecil. Sesegukan.

"setelah beristirahat sejenak, kekuatan agak ngumpul aku pulang d.

walaupun masih agak gimana gitu …. heheheheheheh

trus ujan gede banget …… aku mustinya neduh karena bawa apple … hehehehehehe

trus aku terobos aja …. biarin dah ( kesadarannya ilang tuhhh )

di sepanjang perjalanan aku menyadari bahwa …… ahhh susah nulisnya ….


akukan bukan paranormal yang bisa tau keadaanmu … kegalauanmu ….

aku gak tau apakah aku masih punya kekuatan untuk menahan rasa sakit ini …..
Tapi aku tau bahwa aku harus tetap ada untukmu."


Berbagi Rasa : Sadar dan Sengaja?

Okee..saya gak tahu kenapa kegalauan ini sangat terasa.

Lagi-lagi saya menangis.

Lagi-lagi hanya karena sebuah email.

Dan lagi-lagi dari pengirim yang sama.

Tapi kali ini bukan tangis bahagia, bukan tangis haru, bukan tangis karena tersanjung.

Tapi kali ini tangis karena sakit. Sakit menyadari saya menyakiti orang yang sangat saya cintai.

Bahkan saya dengan sadar dan sengaja melakukannya. Meski itu bukan berarti dengan sadar dan sengaja saya berniat menyakitinya. Demi apapun, bahkan saya rela menukarkan apapun untuk kebahagiaannya.

Bolehkah saya sekali saja menyalahkan keadaan?

Kenapa keadaannya terlalu sulit sehingga kami yang saling mencintai harus saling menyakiti?

Sungguh. Saya mencoba menikmati semua proses kehidupan saya. Termasuk bagian yang ini.

Tapi makin lama keadaan ini semakin tidak dapat dinikmati.

"Aku tak bisa menikmati sakitmu. Juga tak mungkin menikmati sakitku.

Maaf untuk sakit yang kamu rasakan."

Berbagi Selingan : Biarlah

Biarlah putih menjadi hitam
Biarlah bunga menjadi bangkai
Biarlah sejuk menjadi gersang
Biarlah terang menjadi kelabu
Biarlah cerah menjadi mendung
Toh semua sama di hadapanNya
Kamu tak lagi akan dinilai sejauh siapa kamu, tapi bagaimana dan apa yang kamu lakukan.


Berbagi Selingan : Terus dan Terus Mencari

Banyak orang menanyakan makna hidupnya. Banyak orang menanyakan maksud kejadian yang ia alami. Tapi gak banyak yang mencarinya. Cukup puas dengan mempertanyakannya.

Tapi saya tidak. Saya akan terus dan terus mencari. Walaupun mungkin pencarian saya membawa saya kepada jalan yang sulit dan salah. Tapi lagi-lagi ini proses yang harusnya saya nikmati.

Saya sudah terlanjur ada di jalan A. Tidak ada cara untuk mundur, meski belakang hari saya sangat menginginkannya. Dan sedihnya, saya tidak bisa mengubah haluan ke jalan B. Akan terlalu sangat menyakitkan. Maka, saya hanya akan ada di jalan A. Terus berjalan di jalan itu. Berlari jika mungkin. Supaya saya cepat sampai di ujung perjalanan. Di persimpangan jalan, dimana saya menemukan banyak gang, saya hanya akan memilih. Dan jika gang yang saya pilih ternyata memang neraka atau kandang macan, ya sudah..tetap saja saya akan berjalan.

Dan saya, demi apapun juga tidak akan menyalahkan siapa pun. Pihak mana pun. Terhadap jalan-jalan yang harus saya lewati. Tidak akan menyalahkan siapa pun terhadap proses yang harus saya jalani.

Jika nantinya, orang-orang yang menemani saya di jalan A pun ternyata memilih mengubah haluannya karena gang yang saya pilih. Saya menerimanya. Menerima dengan sepenuh hati. Seperti saya ingin dibebaskan, maka saya pun senang membebaskan. Jika nantinya saya sungguh sendiri, enggak..enggak..saya gak akan sendiri. Saya punya Dia yang setia menemani.

Well..apapun yang ada di depan sana. Saya siap menerima. Kenyataan seburuk apapun lebih baik daripada kedustaan. :)

P.S : Triskele..kamu menemukan jalanmu.. :)

Rabu, 03 Oktober 2012

Berbagi Rasa : I Know How Great You are.

Menindaklajuti keinginan saya mengajak seorang teman dan bayi manisnya tinggal bersama saya, saya mengirimkan sebuah email kepada "dia". Saya menceritakan tentang hari itu, hari dimana saya mengunjungi teman saya. Pada kesempatan bertemu dengannya sebelumnya, saya sudah sedikit bercerita tentang teman saya kepadanya.

Email saya itu seperti berisi laporan apa yang akhirnya saya temui dan dapati dari keadaan teman saya ini. Di akhir email, saya menulis begini : " Jika kehendakku terlalu tinggi, dan aku sudah terlalu melayang dalam ketidakmungkinan, ingatkanlah aku, tegurlah aku. Jika kamu merestui, bantulah berdoa untukku. Semoga proses ini dimudahkan. bla bla bla bla".


Lalu dia membalas email saya (dengan email barunya itu... takut dikepoin yakk makanya sekarang kirim emailnya pakai email baru? #ehhh#) : "bla bla bla bla. tenang aja …… aku pasti bantuin kok. mau dibantuin apa ? kabarin aja yaakkkk …. hehehehehehe"

 Rasanya bahagia aja. Dia selalu ada. Dia selalu mau membantu. Bahkan untuk sebuah keinginan muluk yang saya sendiri saja takut untuk berharap lebih. "Yupp..I know How Great You are" akhirnya menjadi balasan saya.

Thank you (lagi-lagi)..

Berbagi Selingan : Pe-REALISASI-an

Merealisasikan sebuah pemikiran (kali ini bukan sebuah impian sebenernya) cukup dapat membuat saya ragu. Hari ini? Benarkah ini saatnya? Tapi rasanya memang benar saat ini waktu yang pas. Arhhh..sumpah..saya deg-degan. Rasa takut dan gak yakin campur aduk jadi satu. Tapiiii.... If you never try you will never know, right??

Gemeternya aja sampai berasa sih ni sebenernya. Tapi ya sudahlah.. katakan saja dengan lantang dalam hati : "saya yakin!"

Mohon maaf sebelumnya untuk orang-orang yang mungkin nantinya akan kecewa karena tidak pernah setuju dengan perealisasian ini. :)

Berbagi Selingan : Dimiliki oleh Kehidupan

Saya mulai tak mengerti jalan pikiran saya sendiri. Mungkin kebanyakan baca novel. Atau mungkin lagi terkena sindrom galau bin labil.

Tapi saya mulai sangat mencintai kehidupan. Kehidupan yang bebas. Kehidupan yang jujur. Kehidupan yang tidak mendua. Kehidupan yang HIDUP.

Manusia sangat mampu mengecewakan. Sesepele berbohong. Idealisme saya terlalu tinggi pada kejujuran. Saya bisa merasakan kecewa bahkan jika kekasih saya berbohong, meski berbohongnya bukan pada saya. (Dia sudah tahu banget kalau berbohong pada saya dan ketahuan, resikonya berat). Tapi saya mau kejujuran, bukan kejujuran atas dasar takut ketahuan atau takut takut yang lainnya.

Saya mau kebebasan. Toh selama ini saya selalu hidup bebas. Saya tidak dilarang untuk pulang malam. Saya tidak dilarang untuk tinggal sendiri. Saya tidak disuruh untuk belajar. Saya tidak disuruh untuk makan. Tapi buktinya saya tetap menjaga kebebasan saya dengan kemanusiaan saya. Saya mau melakukan dan tidak melakukan sesuatu atas dasar kebebasan, pilihan sadar diri saya sendiri.

Mendua? hahaha. Saya sendiri pernah mendua. Tapi idealisme saya pada kejujuran membuat saya mengakui kesalahan saya, meski tak ada yang tahu dan meski tak ada yang curiga. Dan saya rasa memang hanya saya yang bodoh. Sementara orang-orang lain dengan sadar mendua dan dengan sadar menutupinya. Uppss,,maaf tapi saya merasa ini tak jauh dari kata "pengecut". Mencari keadaan aman hanya untuk tetap mendapatkan cinta dari kedua belah pihak. Tak mampu memilih karena norma dan tanggungjawab, misalnya. Membahagiakan si satu pihak ; ngajak nonton dll, tapi harus berbohong pada pihak lain, bilangnya "kerja". Ahhh..whatever lah yaaa...selama yang mendua dan yang dibohongi bukan saya..

Kehidupan tak mampu begitu. Ia jujur. Ia memberikan kebebasan. Ia tak mendua. Dan ia HIDUP. Meski tak tahu bagaimana caranya saya harus menjelaskan kata HIDUP dan bagaimana caranya saya menjelaskan betapa sukanya saya pada HIDUP.

Maka, aku jatuh cinta padamu, kehidupan.

Saat ini, aku ingin dimiliki olehmu. Lebih besar dari keinginanku dimiliki oleh siapapun juga.

Aku ingin menjadi satu denganmu.

Aku ingin kita satu, bukan hanya sebagai dua himpunan dengan sebuah irisan.

Selasa, 02 Oktober 2012

Berbagi Cerita : Berbagi dengan Nyata

Hari ini, Selasa 02 Oktober harusnya jadi jadwal saya bertemu dia. Agenda selasa kali ini sudah kami sepakati untuk menengok sebuah tempat yang rencananya akan saya sewa untuk merealisasikan satu mimpi. Namun, agenda ini ternyata harus dipending dulu.

Hari Kamis minggu lalu, saat saya sedang asik berinternet ria dan membuka situs facebook, status seorang teman lama saya muncul di home. Yang menarik bukan statusnya, tapi profile picturenya. Foto yang saat itu menjadi profile picturenya adalah foto anak bayi. Dengan menggunakan kemampuan dan bakat kepo (tapi kepo yang ini positif lhoooo.. :p), saya memperoleh informasi kalau bayi itu adalah anaknya. Namun tak saya temukan status married, juga foto2 pernikahan yang biasanya dengan bahagia di upload oleh pasangan baru.

Hati saya mulai tak tenang. Firasat saya buruk. Langsung saja saya mengiriminya message. Singkat cerita, akhirnya saya mendapat nomer handphonenya dan kami berkomunikasi lewat sms. Dan mendapat sms dia "gw diusir dari rumah. Sekarang tinggal berdua anak gw doang. Gw udah gak punya temen lagi dan gw gak punya kerjaan", cukup menjawab dugaan dan firasat buruk saya.

Saya dan dia dulunya sekolah di SD yang sama. SMP kami juga masih satu sekolah. Meski tidak pernah sangat amat dekat, namun pertemanan kami baik. Kami seringkali berbagi cerita. Bahkan saat SMA dan kuliah kami tidak lagi bersama, kami juga masih sempat beberapa kali bertemu.

Berhubung jadwal saya sehari-harinya cukup padat dan hanya hari selasa saja yang sengaja saya kosongkan untuk rehat sekalian melepas rindu dengan "dia", maka langsung saja saya menawarkan bertemu di hari selasa kepada teman saya ini. Meskipun sikap saya ini menuai kesensian dari "dia" yang merasa waktunya diambil, namun akhirnya saya mencoba mengaturnya dan jadilah hari ini saya bertemu dengan teman saya ini.

Sekitar jam 9 saya berangkat dari kostan. Tujuan saya adalah jatibening, dimana teman saya mengontrak rumah. Dia datang menjemput saya di depan gang. Dengan menggendong seorang bayi. Yaa..saya kenal bayi itu, walau hanya lewat fotonya saja. Bayi itu sangat kurus. Dan sukses mendatangkan haru. Langsung saya menjulurkan kedua tangan saya kepadanya ; "ikut tante yukk". Dan tak menghitung menit, dia langsung saja lekat dalam pelukan saya. Sepanjang jalan sampai ke rumahnya, saya menggendong bayi itu.

Teman saya mulai bercerita. Tentang kisahnya. Berpacaran selama tiga tahun dengan seorang pria. Berbeda agama. Tidak disetujui kedua orangtua. Sampai akhirnya, bulan Juni 2011 dia hamil. Dan pacarnya? Tak mau bertanggungjawab. (sorry, tapi ini semakin membuat saya memandang rendah kaum adam). Orangtuanya tak bisa menerima keadaannya, maka keluarlah dia dari rumah.

Berkali kali menurut pengakuannya, dia mencoba membunuh anaknya ini. Dengan minum obat-obatan. Tapi kehendak hidup anak ini begitu besar. Ia mau mengenal mamanya dan menjaga mamanya, saya rasa.

Bayi polos dan lugu ini lahir di usia kandungan 8 bulan. Tanpa seorang ayah. Dengan keadaan yang begitu sulit. Dan sungguh, saya menuliskan ini dengan menitikkan air mata, sambil menyebut nama : "Paulus". :)

Ayahnya sungguh tidak bertanggunjawab. Juga tidak menafkahinya sama sekali. Berbulan-bulan ia tinggal dan hidup dengan segala kekurangan. Wajar jika anak ini sekarang kurus. Ibunya makan apapun yang mungkin bisa ia beli. Bayi ini bahkan hanya punya dua pasang baju. Ibunya tak mungkin bekerja, karena anaknya belum bisa ditinggal. Selama berbulan-bulan mereka hidup hanya dengan uang tabungan yang masih bersisa.

Sampai akhirnya sekarang uangnya habis dan ia tidak bisa membayar rumah kontrakannya.

Itulah niat awal ia kepada saya. Meminjam uang untuk membayar uang kontrakan.

Tapi itu tidak cukup. Lima ratus ribu tidak akan membawa dia keluar dari masalahnya. Setelah mengajaknya makan (sumpah..dia udah lama banget pengen makan bakso dan gak kesampean) dan belanja kebutuhan rumah tangganya saya menyampaikan buah pemikiran saya.

Selama dia bercerita, saya memutar otak, berpikir bagaimana caranya untuk membantunya. Akhirnya saya sampaikan bahwa saya ingin mengajaknya tinggal bersama saya. Tentu bersama bayi manis itu. Tapi tidak di kostan saya. Tidak mungkin di sini. Saya akan mencari rumah kontrakan dulu. Yang cukup dapat menampung kami bertiga. Maka, ia tetap harus membayar sewa kontrakan selama satu bulan ini, sambil saya mencari rumah. Rumah yang bukan hanya bangunan. Tapi juga kehidupan.

Sungguh, saya takut membayangkan ini. Saya takut keinginan saya terlalu muluk. Saya takut proses ini tidak mudah. Namun, bukankah saat kita memiliki keinginan kuat untuk berbagi dengan nyata, Dia akan selalu bersama kita? Maka, saya katakan padanya : "gw mungkin tidak akan dapat memberikan kehidupan yang layak. Gw bukan milyuner. Gw mungkin juga tidak bisa selalu menyiapkan makanan yang enak. Tapi gw akan berusaha, berusaha untuk memberikan kehidupan".

Dan biarkanlah saya dengan proses ini. Proses berbagi dengan nyata. Berbagi bukan dengan kelebihan saya.. Tapi dengan segala kekurangan yang ada. Layakkanlah saya. :) Semangaaattttt.. :) Agenda pertama : cari rumah kontrakan. :)

Senin, 01 Oktober 2012

Berbagi Rasa : PMS Selalu Bisa Diandalkan.

PMS (premenstrual syndrome) selalu bisa diandalkan untuk menjadi alasan yang tepat untuk waktunya saya menggalau. Baru saja, yaa baru saja saya menitikkan air mata (padahal udah lama gak nangis. fiuhh) cuman gara2 baca email yang isinya begini :


"Tidak semua misteri kehidupan bisa kita jawab atau kita pecahkan setinggi apapun kepintaran kita. 
Melihatmu bermimpi, bergerak menurut hasratmu ( walaupun tidak semuanya ku setujui ) dan HIDUP ... 
Semua itu sungguh sangat membahagiakan.Walaupun aku gak pernah mengerti apa alasannya aku bahagia ( dan aku juga gak mau mikirin ) tapi aku bahagia". 

Siapa lagi pengirimnya kalau bukan si "kamuuu" itu?! 

Katanya, kata orang kebanyakan sih..menangis adalah cara seseorang bereaksi ketika kata-kata tak lagi mampu mewakili perasaannya.

Yup.. I want to thank you for everything you've done and I love you more than I can say. 

Berbagi Rasa : Aku Tahu

Malam ini tegas aku katakan pada dunia :
"Aku tahu kamu mencintaiku. Sangat mencintaiku bahkan."

Maka, jika suatu saat nanti waktu memisahkan kita,
Aku tahu itu bukan karena kamu tidak mencintaiku
Tapi karena begitulah hidup menjawab misterinya

***

It feels like home when I'm with you
Nyaman.
Bahagia.
Membuatku ingin selalu pulang.
Namun, senyaman apapun rumah,
Akan selalu ada alasan tepat untuk berpisah.
Saling menemukan rumah baru yang akan menemani sampai umur menua mungkin.

Berbagi Cerita : Merombak Agenda, Senin 01-10-2012

Welcome October... Be Nice yahh...


Hari ini tanggal satu. Hari Senin pula. Semoga menjadi awal yang baik.

Hari ini saya absen dari jadwal ngelesin saya. Biarlah anak-anak itu rehat sejenak setelah seminggu full diforsir untuk belajar dalam rangka midtest.

Alasan lainnya..besok yang seharusnya menjadi harinya "dia", harus saya ambil karena saya ingin menemui seorang teman lama. Seorang teman lama yang sedang sangat membutuhkan saya. Maka, agenda untuk "merealisasikan mimpi" yang harusnya dijadwalkan besok bersama dia harus dipending.

Namuuunnn..karena ternyata dia sedang PMS, (harusnya saya sih yang lagi PMS), hehehhe, dia jadi sensi berat. Setelah email saya yang mengutarakan permohonan maaf karena harus membatalkan janji esok hari hanya dibahas "jiahhh" dan setelah ternyata dia sempat berpikir : "sebenernya gw punya hak atas lo gak sihh?", dan daripada kesensiannya bertambah tambah,maka kami putuskan untuk bertemu hari ini.

Wajar sih dia sensi kalau mengingat, dalam 7 hari selama satu minggu, hanya hari selasa saja yang sama-sama kami kosongkan untuk saling melepas rindu. Sisanya tergantung alam yang menentukan, dan akan sangat bersyukur jika kami sedang diijinkan menggarap kerjaan bersama, kalau begitu weekend bisa kami lewati bersama pula. Namun tak selalu kesempatan "bekerja bersama" itu datang dengan murah hati. Weekend kemarin misalnya, saya mendampingi rekoleksi SD Sanur, dan dia tidak. Weekend besok pun rencananya saya akan pulang ke rumah orangtua saya, sudah lebih dari sebulan saya tidak pulang. Maka, ijin saya untuk tidak bertemu esok juga merupakan ijin untuk tidak bertemu satu minggu. Hehehehehe.

Padahal nihh..yang rindu sebenernya bukan cuman dia. Saya juga. Yang ingin bertemu setiap saat bukan cuman dia. Saya juga. Tapiii..besok itu sungguhan urgent. Seseorang di luar sana sangat amat membutuhkan bantuan saya. Dan masakan saya menolak hanya karena "jadwal pacaran" saya? Saya belum segitu mati rasanya.

Tapi menyia-nyiakan kebersamaan bersamanya, yang kadangkala bahkan harus kami curi-curi kesempatannya juga tak mungkin. Maka saya merombak jadwal hari ini. Yaaa..karena hanya hari ini saja yang masih mungkin dirombak. Dan sepakatlah kami untuk berjumpa jam 2 siang ini.

Jam 11 saya ke kampus, bertemu dosen sebentar, dan konsultasi yang harusnya diagendakan hari ini dengan semenamenanya ia pending. Jam 12 demi merubah mood yang udah agak jelek gara2 nih dosen dan karena tadi pagi juga belum sempat keramas demi mengejar2 si dosen, akhirnya saya memutuskan creambath di salon. Supaya wangi juga saat bertemu dia. Hehehehe.

Dari janji jam 2, kami harus memundurkan waktu jadi jam 3. Bosnya tiba2 datang ke kantor dan mengajak berdiskusi. Jam 3 kami bertemu dan langsung saja menuju ke Seven Eleven Rawamangun. Hampir tiga jam lhooo kami ngobrol ngobrol. Sayangnya gak dibikin notulensinya. Semua topik menarik untuk kami bahas. Lalu saya juga memberikan kartu berbentuk rumah dengan judul "It feels like home when I'm with you". Kartu ini saya buat kemarin waktu rekoleksi. Saat itu memang sesi membuat kartu tanda cinta untuk orangtua. Dan saya memanfaatkan moment untuk membuat kartu cinta untuk dia. Hehehehe.

Oh yaaa..hari ini saya juga membeli 5 film DVD bajakan! (maaf yaa negara. :)) Malam ini temanya akan menjadi "nonton film sampai subuh". :) haha..